Panas sudah menyeruak seisi ruang seiring kecupmu yang meledak dengan riang Kuat kita arungi satu malam panjang Yang kau cipta birahi diantara ingin dan takut dalam satu luang Api penuh gairah sedikit mendongak Jasad sudah terjamah oleh cinta Sudah kami temukan syahdu diantara dosa Kulihat bercak indah bak nuansa syahda Sayang, kita menyelam pada asmaraloka Ayun-temayun di atas pangkuan cinta Malam ini dirasa cukup meski celaka
Aku jatuh paling tragis Meringis tiris di tengah tangis Maafmu pernah sampai akut Tapi egomu kebal tak pernah takut Ini jatuh paling tragis Semua kelam di balik gerimis Susah dirasa usah mengemis Jatuhku jatuh menjadi bengis Dua puluh empat ini paling suram Padahal Juli sedang menyulam Andai mati tak pernah menuju langit pun tanah Mungkin luka sembuh tak bernanah
Seribu bisu ingin membasuh yang tak usah Cantiknya tak memiliki makna Nol besar yang dibawa-bawa Menyakitkan sudah khatam disumpahinya Ditanya "surgamu yang mana?" Maaf, bisakah air kotor mengalir di surga? Atau ajari saja cara mengeja Ia takut dirajam Tapi dosa terus tersulam Ia takut terajam Dari laku lancungnya yang terpancing
Komentar
Posting Komentar